LEGENDA adalah
cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi yang ceritanya dihubungkan
dengan tokoh sejarah, telah dibumbui dengan keajaiban, kesaktian, dan
keistimewaan tokohnya. Bila melihat dari Definisi Dan Pengertian Legenda maka
Legenda dapat di bagi menjadi empat kelompok.
Asal Mula Oi Wobo
Pada suatu hari Putera Mahkota Raja Bima ingin
melakukan petualangan. Diawali dari arah Barat, menuju ke arah selatan dan
berakhir di arah utara. Namun ia belum berhenti sampai di situ. Sekembalinya di
istana, ia memohon restu kepada ayahandanya.
“Anakda ingin berpetualangan lagi.” Katanya
“ Berikanlah restu kepada anakda untuk yang terakhir
kali”.
“Aku restui permintaanmu anakda, tetapi kamu harus
berhati-hati dan bawalah bekal serta pengawal yang agak banyak”.
“ Ke arah mana lagi yang ingin kau telusuri?” Sang
Raja ingin tahu.
“ Ke arah timur ayahanda. Saya ingin melihat matahari
terbit, setelah di barat saya sudah melihat matahari terbenam.” Jawabnya sambil
berpamitan pada ayahandanya.
Pada suatu pagi yang cerah, rombongan putera Mahkota
mulai melakukan petualangan. Rombongan itu kelihatannya lebih banyak dari
sebelumnya. Pengawal dan dayang-dayang yang mengikutinya cukup banyak. Bekal
yang mereka bawapun cukup banyak. Namun jalan yang akan mereka tempuh
sepertinya sangat sulit. Banyak bukit-bukit terjal yang harus mereka lewati.
Sungai-sungai yang besar harus mereka lewati. Belum lagi ancaman binatang buas
di malam harinya.
Sebelum menuju ke arah timur, mereka terlebih dahulu
melintas ke arah tenggara. Di sana banyak gunung-gunung yang tinggi menjulang
yang harus didaki. Karena sang Putera Mahkota sangat penasaran ingin melihat matahari
terbit. Setelah sekian lama mereka mendaki, tibalah mereka di sebuah puncak.
Puncak gunung itu bernama puncak La Mbitu. Sebuah gugusan pegunungan yang
tertinggi yang berada di sebelah tenggara tanah Bima.
Di puncak gunung itu mereka bermalam sambil menunggu
matahari terbit. Karena lapar dan haus, maka seluruh perbekalan mereka habiskan
di tempat itu juga.
“ Ampun yang mulia, Seluruh perbekalan sudah tidak ada.”
Salah seorang pengawal datang melapor.
“ Biarlah. Nanti kita akan dapatkan bahan makanan di
tengah jalan.” Sang Putera Mahkota menjawab enteng. Seakan masalah makanan dan
minuman tidak menjadi beban baginya. Lalu pengawal itu pun kembali ke tempatnya.
Ketika sinar keputih putihan bergulir di langit timur,
Sang Putera Mahkota bersama seluruh pengawal dan dayang terbangun. Mereka
mengamati gejala alam yang terjadi dari waktu ke waktu. Tak lama kemudian
merahlah laut. Dan muncullah mata hari seperti sebuah bola besar yang
menggelinding. Semakin lama semakin meninggi. Tak lama kemudian berubah cerah
diiringi kicau burung yang semakin riang.
Setelah melihat matahari terbit, rombongan itu
turun dari puncak La Mbitu. Mereka meluncur ke arah utara. Mereka terus
berjalan menuruni bukit dan lembah yang terjal.Banyak sekali binatang buas yang
lalu lalang di hadapan mereka. Namun binatang-binatang itu tidak mengganggu
perjalanan mereka berkat kesaktian yang dimiliki oleh Sang Putera Mahkota.
Menjelang sore hari rombongan itu tiba di sebuah
tempat yang agak landai. Tempat itu dikelilingi oleh pepohonan yang besar dan
berbagai jenis buah-buahan. Suasana sejuk dan nyaman tampak terasa di tempat
itu. Sang Putera Mahkota memerintahkan seluruh rombongan untuk beristirahat.
Namun sebuah persoalan menghadang. Mereka dilanda
kelaparan dan kehausan yang hebat. Seluruh rombongan lemas tak bertenaga.
Mereka tergeletak di akar-akar pepohonan yang lebat. Sang Putera Mahkota mulai
kebingungan. Dengan sisa tenaga yang ada ia mulai bangkit. Lalu ia memetik
buah-buahan dan pucuk dedaunan di sekitar tempat itu. Ia membagikan kepada
seluruh rombongan. Mereka makan dengan lahap. Namun rasa haus yang belum dapat
terobati.
“ Ampun baginda, setetes air akan sangat berharga bagi
kerongkongan kami.’ Salah seorang pengawal berkata pasrah.
“ Tenang ! Tenang !. Setiap masalah pasti ada jalan
keluarnya.” Demikian Sang Putera Mahkota meyakinkan.
“ Bagaimana caranya Baginda ?” Salah seorang pengawal
ingin tahu.
“ Ambilkan Wobo itu( Wobo adalah sejenis tongkat atau
cambuk yang digunakan untuk memukul Kuda atau binatang lainnya).” Sang Putera
Mahkota menyuruh salah seorang pengawal untuk mengambilnya.
Tak lama kemudian Sang Putera Mahkota memukulkan Wobo
itu ke arah bebatuan dan akar pepohonan di sekitar tempat itu. Lalu keluarlah
air yang segar dan jernih.
“ Minumlah air ini sepuas hati kalian.” Sang Putera
Mahkota memerintahkan
Lalu seluruh rombongan meminum air itu termasuk Putera
Mahkota. Sejak saat itu Putera Mahkota bersama rombongan tidak beranjak dari
tempat itu. Seiring waktu berlalu mereka mendirikan perkampungan di sekitar
tempat itu. Dan jadilah perkampungan yang besar yang bernama Wawo yang berarti
di atas. Dan mata air yang keluar itu diberi nama dengan OI WOBO. Kini tempat
itu menjadi tempat rekreasi yang sangat menarik. Dan banyak dikunjungi oleh
wisatawan terutama yang menyenangi udara pegunungan.
Jadi kutipan dari cerita di atas adalah. Oi wobo merupakan salah sumber mata air yang
terdapat diujung selatan Dusun Sanolo Desa Maria Kecamatan Wawo, oi wobo adalah
sebenarnya adalah kumpulan beberapa mata air yang saling berkaitan satu dengan
lainnya, yang terletak paling ujung dan dekat dengan pemukiman masyarakat
adalah mata air induk yang menjadi pusat kehidupan masyarakat wawo karena mata
air sebagian digunakan oleh PDAM untuk air minum masyarakat wawo, dan sebagian
lagi dari mata air ini adalah suatu tempat yang tidak asing lagi bagi kita
yaitu Kolam renang Wawo atau Pasanggrahan Wawo. Air renbesan dari sini
digunakan oleh masyarakat terdekat untuk keperluan mandi, mencuci dan lain
sebagainya. Di daerah ini pun dijadikan tempat wisata.